Pages

Labels

Sabtu, 27 Juni 2015

Marilah Kita Mengajar dengan Hati!

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mempersyaratkan 4 (empat ) kompetensi yang harus dimiliki oleh guru. Yaitu (1) Kompetensi Pedagogik (2) Kompetensi Kepribadian (3) Kompetensi Sosial ,dan (4) Kompetensi Profesional. Melihat 4 (empat) kompetensi di atas, tentulah kiranya bahwa jabatan guru adalah sebuah profesi yang sangat istimewa, karena ucapan dan tindakannya akan sangat menentukan kepribadian anak didiknya. Wawasan dan keahliannya akan membentuk pandangan dan sikap anak didiknya terhadap kehidupan dan masa depannya. Sehingga, tidaklah berlebihan bila ada yang menyebut profesi guru sebagai rahim bagi segala jenis profesi.

Namun sangat disayangkan, masih banyak guru yang tidak menyadari keistimewaan dari profesi yang digelutinya. Mereka masih berfikir guru adalah profesi yang kalah hebat dengan dokter, arsitek,dan lainnya. Sehingga rasa minder, rasa tak percaya diri, selalu ada dalam benaknya. Jika rasa bangga tidak ada dalam benak setiap guru, maka akan berdampak kepada kinerja dan keprofesionalismenya. Mereka akan cenderung asal bekerja dan apa adanya tanpa kreativitas, kurang bertanggungjawab, dan selalu mengeluh serta menyalahkan siswa. Akhirnya,anak didiklah yang akan menjadi korban.

Rasa bangga sebenarnya akan melahirkan rasa kecintaan terhadap profesi. Tanpa rasa cinta terhadap profesi, maka setiap guru tentunya tidak akan bisa bekerja dengan hati. Mengaplikasikan cinta dalam dunia pendidikan sebenarnya bukan merupakan hal baru. Akan tetapi memang masih jarang sekali ditemui ,seorang guru mengajar anak didiknya murni di dasari atas perasaan cinta. Walaupun ada, jumlahnya relative masih kecil. Padahal hal itu sangat berpengaruh sekali, ketika seorang guru mengajar dengan didasari atas rasa cinta dari hati. Seorang guru yang memiliki kebanggaan akan profesi yang digelutinya, hatinya akan penuh dengan ketulusan dan kesungguhan. Karena, pekerjaan apa pun yang tidak menyertakan hati akan terasa hambar.

Idealnya, menjadi guru memang bukan sekadar melakukan pekerjaan biasa ( terjebak rutinitas ), akan tetapi juga memenuhi panggilan hati dan melakukan perjalanan spiritual ( baca = ibadah ). Cita –cita tersebut sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat. Pemandangan seperti kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan akan berkurang jika banyak guru memahami hakekat pendidikan seperti yang tersirat dalam amanat Undang-undang tersebut.

Seorang guru yang memaknai bahwa profesi guru adalah panggilan hati, akan memaknai tiap ucapan dan tindakan sebagai bagian perjalanan panjang untuk melayani anak manusia dalam peradaban. Mereka senantiasa dengan tulus ikhlas dan penuh sabar mencurahkan semua tenaga dan dedikasinya dalam membimbing para siswanya untuk menjadi manusia yang cerdas, berkualitas ,baik pengetahuan dan ketrampilan serta berakhlakul karimah. Dengan penuh semangat mereka akan melahirkan generasi yang cerdas, bukan bisa naik kelas, bukan hanya bisa lulus, tapi menjadi pribadi – pribadi yang penuh semangat meraih mimpi – mimpinya.

Semua itu bisa dilakukan sejak saat ini dan dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Utuh dan fleksibel dalam mengemas pembelajaran. Metode-pendekatan dan media yang digunakan bervariasi, tidak hanya ceramah atau informasi saja, tetapai juga dengan berbagai pendekatan yang menarik, namun tidak lepas dari komponen segi kognitif – afektif-psikomotor siswa. Terlibat secara penuh untuk mengamati, menganalisa, memahami gaya belajar, dan kemampuan masing-masing siswa sehingga dapat menentukan metode yang tepat dalam pembelajaran. Memotivasi siswa untuk berkeinginan belajar terus menerus dan memberi peluang untuk belajar sesuai dengan kemampuannya.

Rasa malas bukanlah penghalang bagi guru yang mempunyai tekad untuk menjadi guru yang lebih baik lagi setiap harinya. Kurangnya fasilitas juga tidak menjadi penghalang untuk menjadi kreatif. Semuanya bisa dikalahkan dengan tekad yang kuat, tekad menjadi guru yang tidak berhenti belajar dan tidak berhenti mengembangkan diri. Masa belajar seorang guru tidak akan pernah habis. Sikap seperti itu harus ditopang dengan kerendahan hati agar sikap belajar tanpa henti menjadi kebiasaan atau habitus. Artinya, sebuah kebiasaan yang tidak dijadikan tugas/kewajiban apalagi tuntutan, melainkan merasa bebas dan bahagia dalam melakukannya. Semuanya itu bisa dilakukan apabila kita memberikan hari dan waktu dalam melakukan permenungan atau refleksi sebelum atau sesudah proses belajar mengajar dengan hati. Menjadikan diri sebagai teladan pembelajar dan memiliki hati bagi sang pelajar, sehingga anak terangsang untuk berlomba-lomba dalam belajar.

Totalitas dan keikhlasan guru dalam menunaikan amanah sebagai pendidik merupakan cerminan dari keberpihakannya kepada nilai-nilai kemanusiaan. Karena profesi guru selalu berkaitan erat dengan pergulatan tiada akhir dalam upaya pemberantasan kebodohan dan pembentukan akhlak mulia. Mengasah ketrampilan hidup yang merupakan modal dan bekal siswanya di masa depan.

Jangan sekali-kali menjadikan profesi guru sebagai pelarian atau hanya tergiur karena tunjangan sertifikasi/profesi semata. Jika kita belum siap menjadi guru yang mendidik dengan hati, lebih baik carilah profesi lain selaian guru. Karena saat ini dunia pendidikan benar-benar membutuhkan seseorang yang siap ditempa menjadi guru, di dorong oleh panggilan hati dan tidak terpaksa menekuni bidang yang dipilihnya.

Sebagai guru yang mendidik dengan hati setidaknya mampu memberikan jejak-jejak kehidupan bagi siswa dan mampu menginspirasi setiap langkah siswa. Bagi mereka proses keteladanan atau memberi contoh melalui sikap dan tingkah laku yang baik merupakan strategi yang ampuh dari sekedar mengajar di depan kelas. Belajar menginspirasi agar bisa membawa nafas perubahan bagi siswa untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak hanya cerdas intelektual tapi juga cerdas spiritual. Karena mereka adalah tunas-tunas muda Indonesia penerus bangsa. Tunas-tunas nusantara yang akan tumbuh menghijaukan peradaban dunia. Tunas-tunas nusantara yang mampu berbaur dengan masyarakat dunia ( tanpa ISIS,tanpa Teroris,dan tanpa dirinya yang dianggap paling benar ). Akan tetapi tunas yang tetap menonjolkan karakter bangsa Indonesia. Mereka adalah pelukis wajah-wajah masa depan Indonesia.

Terus semangat guru-guru Indonesia dan seluruh dunia. Ikhlaskan diri untuk mendidik dengan cara yang terbaik, buat tabungan akherat kita biar semakin bertambah dengan mengajar dan mendidik dengan hati. Dengan mengajar dengan hati Insya Allah apa yang kita berikan kepada peserta didik dan apa yang kita kerjakan akan terasa nikmat dan tentunya mendatangkan pahala yang berlimpah. Maju terus pendidikan Indonesia. Siapkan 10 pemuda untuk mengguncang dunia ( Semangat Ir.Sukarno ). Terima kasih founding fathers-ku. SemangatMu masih konsisten diteruskan oleh penggantiMu…..Suharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, Sby, dan …… Jokowi. Makasih guru tercintaku.

Penulis, adalah Nurul Widayati, S.Pd. Guru Matematika SMA Negeri 2 Ponorogo

sumber:
http://www.kompasiana.com/mmmmm/marilah-kita-mengajar-dengan-hati_5588f619c523bd660f93bad1

0 komentar:

Posting Komentar