Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
mempersyaratkan 4 (empat ) kompetensi yang harus dimiliki oleh guru.
Yaitu (1) Kompetensi Pedagogik (2) Kompetensi Kepribadian (3) Kompetensi
Sosial ,dan (4) Kompetensi Profesional. Melihat 4 (empat) kompetensi di
atas, tentulah kiranya bahwa jabatan guru adalah sebuah profesi yang
sangat istimewa, karena ucapan dan tindakannya akan sangat menentukan
kepribadian anak didiknya. Wawasan dan keahliannya akan membentuk
pandangan dan sikap anak didiknya terhadap kehidupan dan masa depannya.
Sehingga, tidaklah berlebihan bila ada yang menyebut profesi guru
sebagai rahim bagi segala jenis profesi.
Namun sangat
disayangkan, masih banyak guru yang tidak menyadari keistimewaan dari
profesi yang digelutinya. Mereka masih berfikir guru adalah profesi yang
kalah hebat dengan dokter, arsitek,dan lainnya. Sehingga rasa minder,
rasa tak percaya diri, selalu ada dalam benaknya. Jika rasa bangga tidak
ada dalam benak setiap guru, maka akan berdampak kepada kinerja dan
keprofesionalismenya. Mereka akan cenderung asal bekerja dan apa adanya
tanpa kreativitas, kurang bertanggungjawab, dan selalu mengeluh serta
menyalahkan siswa. Akhirnya,anak didiklah yang akan menjadi korban.
Rasa
bangga sebenarnya akan melahirkan rasa kecintaan terhadap profesi.
Tanpa rasa cinta terhadap profesi, maka setiap guru tentunya tidak akan
bisa bekerja dengan hati. Mengaplikasikan cinta dalam dunia pendidikan
sebenarnya bukan merupakan hal baru. Akan tetapi memang masih jarang
sekali ditemui ,seorang guru mengajar anak didiknya murni di dasari atas
perasaan cinta. Walaupun ada, jumlahnya relative masih kecil. Padahal
hal itu sangat berpengaruh sekali, ketika seorang guru mengajar dengan
didasari atas rasa cinta dari hati. Seorang guru yang memiliki
kebanggaan akan profesi yang digelutinya, hatinya akan penuh dengan
ketulusan dan kesungguhan. Karena, pekerjaan apa pun yang tidak
menyertakan hati akan terasa hambar.
Idealnya, menjadi guru
memang bukan sekadar melakukan pekerjaan biasa ( terjebak rutinitas ),
akan tetapi juga memenuhi panggilan hati dan melakukan perjalanan
spiritual ( baca = ibadah ). Cita –cita tersebut sesuai dengan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan
kehidupan bangsa dan membentuk watak dan peradaban bangsa yang
bermartabat. Pemandangan seperti kekerasan yang terjadi dalam dunia
pendidikan akan berkurang jika banyak guru memahami hakekat pendidikan
seperti yang tersirat dalam amanat Undang-undang tersebut.
Seorang
guru yang memaknai bahwa profesi guru adalah panggilan hati, akan
memaknai tiap ucapan dan tindakan sebagai bagian perjalanan panjang
untuk melayani anak manusia dalam peradaban. Mereka senantiasa dengan
tulus ikhlas dan penuh sabar mencurahkan semua tenaga dan dedikasinya
dalam membimbing para siswanya untuk menjadi manusia yang cerdas,
berkualitas ,baik pengetahuan dan ketrampilan serta berakhlakul karimah.
Dengan penuh semangat mereka akan melahirkan generasi yang cerdas,
bukan bisa naik kelas, bukan hanya bisa lulus, tapi menjadi pribadi –
pribadi yang penuh semangat meraih mimpi – mimpinya.
Semua itu
bisa dilakukan sejak saat ini dan dimulai dari langkah-langkah kecil
yang konsisten. Utuh dan fleksibel dalam mengemas pembelajaran.
Metode-pendekatan dan media yang digunakan bervariasi, tidak hanya
ceramah atau informasi saja, tetapai juga dengan berbagai pendekatan
yang menarik, namun tidak lepas dari komponen segi kognitif –
afektif-psikomotor siswa. Terlibat secara penuh untuk mengamati,
menganalisa, memahami gaya belajar, dan kemampuan masing-masing siswa
sehingga dapat menentukan metode yang tepat dalam pembelajaran.
Memotivasi siswa untuk berkeinginan belajar terus menerus dan memberi
peluang untuk belajar sesuai dengan kemampuannya.
Rasa malas
bukanlah penghalang bagi guru yang mempunyai tekad untuk menjadi guru
yang lebih baik lagi setiap harinya. Kurangnya fasilitas juga tidak
menjadi penghalang untuk menjadi kreatif. Semuanya bisa dikalahkan
dengan tekad yang kuat, tekad menjadi guru yang tidak berhenti belajar
dan tidak berhenti mengembangkan diri. Masa belajar seorang guru tidak
akan pernah habis. Sikap seperti itu harus ditopang dengan kerendahan
hati agar sikap belajar tanpa henti menjadi kebiasaan atau habitus.
Artinya, sebuah kebiasaan yang tidak dijadikan tugas/kewajiban apalagi
tuntutan, melainkan merasa bebas dan bahagia dalam melakukannya.
Semuanya itu bisa dilakukan apabila kita memberikan hari dan waktu dalam
melakukan permenungan atau refleksi sebelum atau sesudah proses belajar
mengajar dengan hati. Menjadikan diri sebagai teladan pembelajar dan
memiliki hati bagi sang pelajar, sehingga anak terangsang untuk
berlomba-lomba dalam belajar.
Totalitas dan keikhlasan guru dalam
menunaikan amanah sebagai pendidik merupakan cerminan dari
keberpihakannya kepada nilai-nilai kemanusiaan. Karena profesi guru
selalu berkaitan erat dengan pergulatan tiada akhir dalam upaya
pemberantasan kebodohan dan pembentukan akhlak mulia. Mengasah
ketrampilan hidup yang merupakan modal dan bekal siswanya di masa depan.
Jangan
sekali-kali menjadikan profesi guru sebagai pelarian atau hanya tergiur
karena tunjangan sertifikasi/profesi semata. Jika kita belum siap
menjadi guru yang mendidik dengan hati, lebih baik carilah profesi lain
selaian guru. Karena saat ini dunia pendidikan benar-benar membutuhkan
seseorang yang siap ditempa menjadi guru, di dorong oleh panggilan hati
dan tidak terpaksa menekuni bidang yang dipilihnya.
Sebagai guru
yang mendidik dengan hati setidaknya mampu memberikan jejak-jejak
kehidupan bagi siswa dan mampu menginspirasi setiap langkah siswa. Bagi
mereka proses keteladanan atau memberi contoh melalui sikap dan tingkah
laku yang baik merupakan strategi yang ampuh dari sekedar mengajar di
depan kelas. Belajar menginspirasi agar bisa membawa nafas perubahan
bagi siswa untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak hanya cerdas
intelektual tapi juga cerdas spiritual. Karena mereka adalah tunas-tunas
muda Indonesia penerus bangsa. Tunas-tunas nusantara yang akan tumbuh
menghijaukan peradaban dunia. Tunas-tunas nusantara yang mampu berbaur
dengan masyarakat dunia ( tanpa ISIS,tanpa Teroris,dan tanpa dirinya
yang dianggap paling benar ). Akan tetapi tunas yang tetap menonjolkan
karakter bangsa Indonesia. Mereka adalah pelukis wajah-wajah masa depan
Indonesia.
Terus semangat guru-guru Indonesia dan seluruh dunia.
Ikhlaskan diri untuk mendidik dengan cara yang terbaik, buat tabungan
akherat kita biar semakin bertambah dengan mengajar dan mendidik dengan
hati. Dengan mengajar dengan hati Insya Allah apa yang kita berikan
kepada peserta didik dan apa yang kita kerjakan akan terasa nikmat dan
tentunya mendatangkan pahala yang berlimpah. Maju terus pendidikan
Indonesia. Siapkan 10 pemuda untuk mengguncang dunia ( Semangat
Ir.Sukarno ). Terima kasih founding fathers-ku. SemangatMu masih
konsisten diteruskan oleh penggantiMu…..Suharto, Habibie, Gus Dur,
Megawati, Sby, dan …… Jokowi. Makasih guru tercintaku.
Penulis, adalah Nurul Widayati, S.Pd. Guru Matematika SMA Negeri 2 Ponorogo
sumber:
http://www.kompasiana.com/mmmmm/marilah-kita-mengajar-dengan-hati_5588f619c523bd660f93bad1





0 komentar:
Posting Komentar